Sabtu, 02 Mei 2015

Penyesalan Penduduk Surga?

Ada pernyataan bahwa penduduk surga kelak akan menyesal di surga, yaitu menyesal dengan waktu yang mereka lalaikan untuk tidak mengingat (berdzikir) kepada Allah. Dasarnya adalah hadist berikut,
ليس يتحسر أهل الجنة إلا على ساعة مرت بهم لم يذكروا الله عزوجل فيها
Tidak ada sesuatu yang lebih disesali oleh para penghuni surga selain atas satu saat yang pernah mereka lalui di dunia, yang tidak mereka gunakan untuk mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabrani di Al-Kabir (20/93/182), Al-baihaqi dalam “As-Sya’bi” (1/136) dan lainnya )
Hadits ini dhaif.
Awalnya dishahihkan oleh syaikh Al-Albani rahimahullah  dalam Shahihul Jaami’, kemudian beliau merujuk dan mendhaifkannya dalam Al-Silsilah Ad-Dhaiifah no. 4986. Beliau berkata,
واعلم أنني كنت اغتررت برهة من الزمن بكلام المنذري والهيثمي المتقدمين ؛ قبل أن أطلع على إسناد الطبراني والبيهقي  رجعت عن ذلك كله ، وكتبت على هامش “الصحيح” أن ينقل إلى “الضعيف” ، وشرحت السبب هنا كما ترى ، والهادي هو الله .
“Ketahuilah bahwa saya telah terkelabui sesaat ketika itu dengan perkataan Al-Mundziri dan Al-Haitsami. sebelum saya menelaah sanad At-Tabhrani dan Al-Baihaqi dan saya bawakan hadits ini dalam kitab yang lain yaitu shahihul jaami’ no. 2197. Kemudian saya ruju’(memperbaiki) semuanya. saya telah menulis dalam catatan kaki kitab As-Shahih,  hadits ini dipindah ke kitab Ad-Dhaiif dan saya telah jelaskan sebabnya sebagaimana yang engkau lihat.”[1]
Jika dilihat dalam nash-nash Al-Quran dan hadits menunjukkan bahwa penduduk surga semuanya bahagia, tidak ada sedih, duka, menyesal, iri, hasad dan bahkan tidak ada cemburu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
مَن يدخل الجنةَ ينعم ولا يبأس، ولا تَبلى ثيابُهُ، ولا يَنفى شبابُه
“Barangsiapa yang masuk surga, ia akan diberikan kenikmatan tanpa ada kesusahan, tidak menjadi usang/lusuh baju (yang dipakainya), dan tidak pula hilang kebugarannya”.[2]

Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ (٥٥) هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلالٍ عَلَى الأرَائِكِ مُتَّكِئُونَ (٥٦)
“Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan” (Yaasiin : 55-56)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ اللَّهُ أَعْدَدْتُ لِعِبَادِى الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنَ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنَ سَمِعَتْ ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ ، فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ ( فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِىَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ )
Allah berfirman: Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang sholeh surga yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia.” Bacalah firman Allah Ta’ala, “Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As Sajdah: 17).[3]

Al-Munawi Rahimahullah berkata,
لكن هذه الحسرات إنما هي في الموقف لا في الجنة كما بينه الحكيم وغيره، والغرض من السياق أن تعلم أن كل حركة ظهرت منك بغير ذكر الله فهي عليك لا لك، وأن أدوم الناس على الذكر أوفرهم حظا وأرفعهم درجة وأشرفهم منزلة. انتهى.
“Akan tetapi penyesalan ini adalah penyesalan di mauqif (padang masyhar), bukan penyesalan di surga sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hakim dan yang lainnya. Maksud dari konteks hadits bahwasanya semua kegiatan tanpa berdzikir (mengingat) kepada Allah maka akan menjadi hujjah yang menuntutmu bukan hujjah yang membelamu. Dan manusia yang paling sering berdzikir (mengingat Allah) adalah orang yang paling beruntung, paling tinggi derajatnya dan paling mulia kedudukannya.”[4]

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Orang Sakit Sering-Sering Membaca Hauqalah (Laa Haula Wala Quwwata Illa Billah)

Ketika badan berbaring tak berdaya karena sakit, akan tetapi lisan kita terkadang masih bisa digunakan. Oleh karena itu sebaiknya lisan kita digunakan untuk berdzikir, selain doa-doa kesembuhan dan kebaikan dunia-akhirat ada juga wirid selama sakit yang sering kita baca dan mudah diucapkan yaitu “Hauqalah” atau mengucapakan (لا حول ولا قوة إلا بالله) “laa haula wala quwwata illa billah”. Bisa jadi dengan dzikir ini kita diberikan kesembuhan dan kemudahan dunia-akhirat.

Beberapa Keutamaan hauqalah
Sebaiknya kami bawakan beberapa keutamaan hauqalah sebelumnya:
-Merupakan tabungan/simpanan untuk surga
Rasulullah Shallalahu ’alaihi  Wasallam bersabda,
يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ ». فَقُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « قُلْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ »
Wahai Abdullah bin Qais, maukah engkau kuberitahu tentang salah satu tabungan/simpanan dari simpanan-simpanan surgawi? Abdullah bin Qais menjawab: ‘Tentu, wahai Rasulullah’. Ia bersabda: ‘Ucapkanlah laa haula wa laa quwwata illa billah’[1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
أنَّ النبي صلى الله عليه وسلم قال:”هي كنز من كنوز الجنة” والكنز مال مجتمع لا يحتاج إلى جمع؛ وذلك أنَّها تتضمن التوكل والافتقار إلى الله تعالى.
“Nabi Shallalahu ’alaihi  Wasallam mengatakan “salah satu tabungan/simpanan dari simpanan-simpanan surgawi “, lafadz (الكنز) “al-Kanzu” maknanya adalah harta yang terkumpul dan tidak membutuhkan  lafadz jamak (كنوز), hal tersebut karena hauqalah mengandung makna tawakkal dan iftiqar (membutuhkan) Allah Ta’ala.”[2]

-Merupakan salah satu dari pinta surga
Rasulullah Shallalahu ’alaihi  Wasallam berkata kepada Abu Musa radhiallahu ‘anhu,
ألا أدلك على باب من أبواب الجنة ؟ قلت بلى ، قال: لا حول ولا قوة إلا بالله )) ، رواه الترمذي وأحمد
“Maukah engkau aku tunjukkan salah satu dari pintu surga? Aku berkata, ‘tentu’. Beliau bersabda, ‘ Laa haula wala quwwata illa billah”[3]

-Amalan yang dianjurkan untuk sering dibaca
عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.
Dari Abu Dzar Radhiallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.[4]


Hauqalah hendaknya sering-sering dibaca oleh orang sakit
Syaikh Abdullah bin AL-Jibrin rahimahullah ditanya,
س: يوصي بعض الزائرين المريض بالإكثار من الحوقلة ( لا حول ولا قوة إلا بالله ) فهل لنا أن نعرف من فضيلتكم أهمية هذه الكلمة وهل ورد فيها شيء من السنة؟
“Sebagian penjenguk orang yang sakit memberikan nasihat agar si sakit banyak-banyak membaca hauqalah (laa haula wala quwwata illa billah), apakah urgensi dari kalimat ini dan apakah terdapat dalam sunnah?”

Beliau menjawab,
نعم …ومعنى هذه الجملة اعتراف الإنسان بعجزه وضعفه إلا أن يقويه ربه، فكأنه يقول: يا رب ليس لي حول ولا تحول من حال إلى حال ولا قدرة لي على مزاولة الأعمال إلا بك، فأنا محتاج إلى تقويتك وإمدادك، ففيها البراءة من الحول والقوة، وإن الرب تعالى هو الذي يملك ذلك، ويمد عباده بما يعينهم على أمر دنياهم ودينهم، والله أعلم وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلم.
“iya…Makna kalimat ini (hauqalah) adalah pengakuan manusia akan tidak berdaya serta lemahnya dirinya dan berharap agar Rabb-nya memberikan kekuatan padanya, seakan-akan ia  (si sakit) berkata, ‘wahai Rabb-ku, hamba tidak memiliki daya dan tidak bisa mengubah keadaan, tidak pula memiliki upaya dalam melakukan amal kecuali dengan bantuan-Mu, Hamba membutuhkan taufik dan bantuan-Mu. Dalam kalimat ini terdapat pengakuan ketidakmampuan dalam daya dan upaya karena hanya Allah Ta’ala yang memilikinya. Ia membantu dan menolong hamba-Nnya dalam urusan agama dan dunia.”[5]

Penyakit yang diderita termasuk bahaya dan bahaya tersebut bisa dihilangkan dan diangkat, Makhul rahimahullah berkata,
)) قال مكحول : فمن قال : (( لا حول ولا قوة إلا بالله ولا منجا من الله إلا إليه ، كشف الله عنه سبعين بابا من الضر أدناها الفقر ))
“Barangsiapa yang mengucapkan ‘laa haula wala quwwata illa billah wala manjaa minallah illa ilaih’ maka Allah akan mengangkat darinya 70 pintu bahaya dan mencegah kefakiran darinya.[6]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
وقول ” لا حول ولا قوة إلا بالله ” يوجب الإعانة ؛ ولهذا سنها النبي صلى الله عليه وسلم إذا قال المؤذن : ” حي على الصلاة . فيقول : المجيب : لا حول ولا قوة إلا بالله فإذا قال : حي على الفلاح قال المجيب : لا حول ولا قوة إلا بالله “
“Ucapan laa haula wala quwwata illa billah, memberikan konsekuensi “i’anah” (bantuan), oleh karena itu Rasulullah Shallalahu ’alaihi  Wasallam  memberikan contoh jika muadzzin mengucapkan “hayya ‘alas shalah”, maka dijawab,laa haula wala quwwata illa billah’, jika muadzzin mengucapkan, ‘hayya ‘alal falah’, dijawab’ laa haula wala quwwata illa billah’ (minta bantuan kepada Allah Agar bisa melaksanakannya, pent)”[7]

Syaikh Abdurrazaq Al-Badr hafidzhullah berkata,
أنَّها كلمة استعانة بالله العظيم، فحريٌّ بقائلها والمحافظ عليها أن يظفر بعون الله له وتوفيقه وتسديده
“Kalimat ini adalah permohonan bantuan kepada Allah yang Maha Agung, layak bagi pengucapnya dan menjaganya (wiridnya) agar ia berhasil dengan bantuan, taufik dan  petunjuk dari Allah.”[8]

Demikianlan jika kita menjenguk orang sakit atau sedang ditimpa penyakit maka hendaknya memperbanyak membaca hauqalah.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walamdulillahi robbil ‘alamin.